Saturday, July 29, 2017

Budidaya Cacing Tanah, Tips Rahasia Ini Bisa Membantu Anda Cepat Sukses

Cara Budidaya Cacing Tanah  - Sebelumnya kita telah membahas panjang lebar mengenai bagaimana gambaran analisa peluang perjuangan yang satu ini. Di sana juga dijelaskan bahwa tahapan pertama bila kita ingin memulai perjuangan budidaya cacing yaitu persiapan yang matang. 

 Tips Sukses Cara Budidaya Cacing Tanah Untuk Pemula

Dan salah satu persiapan yang harus dilakukan yaitu berguru perihal cara memelihara cacing tanah tersebut. Hal itulah yang mendasari pembahasan kita kali ini. Yaitu kali ini kita akan membahas dan mempelajari lebih jauh mengenai cara budidaya cacing tanah yang menjanjikan untuk pemula. 

Dengan mempelajari teknik pemeliharaan atau teknik budidaya ini maka diharapkan persiapan yang kita miliki benar-benar cukup matang. Tapi sebelum membahas persoalan ini lebih jauh pastikan bahwa kita telah menganalisa bagaimana peluang urusan ekonomi budidaya cacing tersebut.

Tidak usah kita panjang lebar, yang perlu kita siapkan yaitu mulai dari berita aneka macam jenis cacing tanah yang bagus untuk dibudidayakan dan juga beberapa berita lainnya. 

Mengenai jenis cacing, yang umum diternak dikala ini setidaknya ada tiga jenis yaitu jenis cacing tanah Pheretima, Periony dan cacing Lumbricus. Memang selain ketiga jenis tersebut masih ada beberapa jenis lain yang juga mampu diternak tapi tidak usah kita bahas panjang lebar disini.

Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah segmen yang dimiliki sekitar 90-195 dan klitelum yang terletak pd segmen 27-32. Biasanya jenis ini kalah bersaing dengan jenis yang lain sehingga tubuhnya lebih kecil. Tetapi bila diternakkan besar tubuhnya mampu menyamai atau melebihi jenis lain. 


Cacing tanah jenis Pheretima segmennya mencapai 95-150 segmen. Klitelumnya terletak pd segmen 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang dan silindris berwarna merah keunguan. Cacing tanah yang termasuk jenis Pheretima antara lain cacing merah, cacing koot dan cacing kalung. 

Cacing tanah jenis Perionyx berbentuk gilik berwarna ungu bau tanah hingga merah kecokelatan dengan jumlah segmen 75-165 dan klitelumnya terletak pd segmen 13 dan 17. Cacing ini biasanya agak manja sehingga dalam pemeliharaannya dibutuhkan perhatian yang lebih serius.

Cacing jenis Lumbricus Rubellus memiliki keunggulan lebih dibanding kedua jenis yang lain di atas, alasannya yaitu produktivitasnya tinggi (penambahan berat badan, produksi telur/anakan dan produksi bekas cacing “kascing”) serta tidak banyak bergerak

Dalam bidang pertanian, cacing menghancurkan materi organik sehingga memperbaiki aerasi dan struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur dan perembesan nutrisi oleh tanaman menjadi baik. Keberadaan cacing tanah akan meningkatkan populasi mikroba yang menguntungkan tanaman. Selain itu juga cacing tanah dapat digunakan sebagai:

1) Bahan Pakan Ternak
2) Bahan Baku Obat dan materi ramuan untuk penyembuhan penyakit.
3) Bahan Baku Kosmetik
4) Makanan Manusia

A. Syarat Lokasi Budidaya Cacing Tanah
Tanah sebagai media hidup cacing harus mengandung materi organik dalam jumlah yang besar. Bahan-bahan organik tanah dapat berasal dr serasah (daun yang gugur), kotoran ternak atau tanaman dan hewan yang mati. 

Cacing tanah menyukai bahan-bahan yang mudah membusuk alasannya yaitu lebih mudah dicerna oleh tubuhnya. Untuk pertumbuhan yang baik, cacing tanah memerlukan tanah yang sedikit asam hingga netral atau ph sekitar 6-7,2. 

Dengan kondisi ini, basil dalam tubuh cacing tanah dapat bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi. Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah yaitu antara 15-30 %.

Suhu yang dibutuhkan untuk pertumbuhan cacing tanah dan penetasan kokon yaitu sekitar 15–25 derajat C atau suam-suam kuku. Suhu yang lebih tinggi dr 25 derajat C masih baik asal ada naungan yang cukup dan kelembaban optimal.

Lokasi pemeliharaan cacing tanah diusahakan semoga mudah penanganan dan pengawasannya serta tidak terkena sinar matahari secara langsung, misalnya di bawah pohon rindang, di tepi rumah atau di ruangan khusus (permanen) yang atapnya terbuat dr bahan-bahan yang tidak meneruskan sinar dan tidak menyimpan panas.

B. Teknik dan Cara Budidaya Cacing Tanah

Penyiapan Sarana dan Peralatan
Pembuatan sangkar sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat ibarat bambu, rumbia, papan bekas, ijuk dan genteng tanah liat. Salah satu rujukan sangkar permanen untuk peternakan skala besar yaitu yang berukuran 1,5 x 18 m dengan tinggi 0,45 m. 

Didalamnya dibuat rak-rak bertingkat sebagai kawasan wadah-wadah pemeliharaan. Bangunan sangkar dapat pula tanpa dinding (bangunan terbuka). Model-model sistem budidaya/ beternak, antara lain rak berbaki, kotak bertumpuk, pancing bertingkat atau pancing berjajar..

Pembibitan
Persiapan yang dibutuhkan dalam pembudidayaan cacing tanah yaitu meramu media tumbuh, menyediakan bibit unggul, mempersiapkan sangkar cacing dan sangkar pelindung.

Pemilihan Bibit Calon Induk
Sebaiknya dalam beternak cacing tanah secara komersial digunakan bibit yang sudah ada alasannya yaitu dibutuhkan dalam jumlah yang besar, budidaya cacing tanah untuk pemula. Namun bila akan dimulai dr skala kecil dapat pula dipakai bibit cacing tanah dr alam, yaitu dr tumpukan sampah yang membusuk atau dr kawasan pembuangan kotoran hewan.

Pemeliharaan Bibit Calon Induk
Pemeliharaan dapat dibagi menjadi beberapa cara:
  1. pemeliharaan cacing tanah sebanyak-banyaknya sesuai kawasan yang digunakan. Cacing tanah dapat dipilih yang muda atau dewasa. Jika sarang berukuran tinggi sekitar 0,3 m, panjang 2,5 m dan lebar kurang lebih 1 m, dapat ditampung sekitar 10.000 ekor cacing tanah dewasa.
  2. pemeliharaan dimulai dengan jumlah kecil. Jika jumlahnya telah bertambah, sebagian cacing tanah dipindahkan ke kolam lain.
  3. pemeliharaan kombinasi cara a dan b.
  4. pemeliharaan khusus kokon hingga anak, setelah remaja di pindah ke kolam lain.
  5. Pemeliharaan khusus cacing remaja sebagai bibit.

Sistem Pemuliabiakan
Apabila media pemeliharaan telah siap dan bibit cacing tanah sudah ada, maka penanaman dapat segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan. Bibit cacing tanah yang ada tidaklah sekaligus dimasukan ke dalam media, tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit. 

Beberapa bibit cacing tanah diletakan di atas media, kemudian diamati apakah bibit cacing itu masuk ke dalam media atau tidak. Jika terlihat masuk, gres bibit cacing yang lain dimasukkan.

Setiap 3 jam sekali diamati, mungkin ada yang berkeliaran di atas media atau ada yang meninggalkan media (wadah). Apabila dalam waktu 12 jam tidak ada yang meninggalkan wadah berarti cacing tanah itu betah dan media sudah cocok. 

Sebaliknya bila media tidak cocok, cacing akan berkeliaran di permukaan media. Untuk mengatasinya, media harus segera diganti dengan yang baru. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara disiram dengan air, kemudian diperas hingga air perasannya terlihat berwarna bening (tidak berwarna hitam atau cokelat tua).

Reproduksi, Perkawinan
Cacing tanah termasuk hewan hermaprodit, yaitu memiliki alat kelamin jantan dan betina dalam satu tubuh. Namun demikian, untuk pembuahan, tidak dapat dilakukannya sendiri. dr perkawinan sepasang cacing tanah, masing-masing akan dihasilkan satu kokon yang berisi telur-telur. 

Kokon berbentuk lonjong dan berukuran sekitar 1/3 angkuh korek api. Kokon ini diletakkan di kawasan yang lembab. Dalam waktu 14-21 hari kokon akan menetas.

Setiap kokon akan menghasilkan 2-20 ekor, rata-rata 4 ekor. Diperkirakan 100 ekor cacing dapat menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun. Cacing tanah mulai remaja setelah berumur 2-3 bulan yang ditandai dengan adanya gelang (klitelum) pd tubuh adegan depan. Selama 7-10 hari setelah perkawinan cacing remaja akan dihasilkan 1 kokon.

Pemeliharaan

Pemberian Pakan
Cacing tanah diberi pakan sekali dalam sehari semalam sebanyak berat cacing tanah yang ditanam. Apabila yang ditanam 1 Kg, maka pakan yang harus diberikan juga harus 1 Kg. Secara umum pakan cacing tanah yaitu berupa semua kotoran hewan, kecuali kotoran yang hanya dipakai sebagai media. Hal yang perlu diperhatikan dalam bantuan pakan pd cacing tanah, antara lain :
  • pakan yang diberikan harus dijadikan bubuk atau bubur dengan cara diblender.
  • bubur pakan ditaburkan rata di atas media, tetapi tidak menutupi seluruh permukaan media, sekitar 2-3 dr peti wadah tidak ditaburi pakan.
  • pakan ditutup dengan plastik, karung , atau materi lain yang tidak tembus cahaya.
  • pemberian pakan berikutnya, apabila masih tersisa pakan terdahulu, harus diaduk dan jumlah pakan yang diberikan dikurangi.
  • bubur pakan yang akan diberikan pd cacing tanah mempunyai perbandingan air 1:1.

Penggantian Media
Media yang sudah menjadi tanah/kascing atau yang telah banyak telur (kokon) harus diganti. Supaya cacing cepat berkembang, maka telur, anak dan induk dipisahkan dan ditumbuhkan pd media baru. Rata rata penggantian media dilakukan dalam jangka waktu 2 Minggu.

Proses Kelahiran
Bahan untuk media pembuatan sarang adalah: kotoran hewan, dedaunan/Buah-buahan, batang pisang, limbah rumah tangga, limbah pasar, kertas koran/kardus/kayu lapuk/bubur kayu. Bahan yang tersedia terlebih dahulu dipotong sepanjang 2,5 Cm. 

Berbagai bahan, kecuali kotoran ternak, diaduk dan ditambah air kemudian diaduk kembali. Bahan campuran dan kotaran ternak dijadikan satu dengan persentase perbandingan 70:30 ditambah air secukupnya supaya tetap basah.

C. Hama dan Penyakit Cacing Tanah
Keberhasilan beternak cacing tanah tidak terlepas dr pengendalian terhadap hama dan musuh cacing tanah. Beberapa hama dan musuh cacing tanah antara lain: semut, kumbang, burung, kelabang, lipan, lalat, tikus, katak, tupai, ayam, itik, ular, angsa, lintah, kutu dan lain-lain.

Musuh yang juga ditakuti yaitu semut merah yang memakan pakan cacing tanah yang mengandung karbohidrat dan lemak. Padahal kedua zat ini dibutuhkan untuk penggemukan cacing tanah. Pencegahan serangan semut merah dilakukan dengan cara disekitar wadah pemeliharaan (dirambang) diberi air cukup.

D. Panen Cacing Tanah
Dalam beternak cacing tanah ada dua hasil terpenting (utama) yang dapat diharapkan, yaitu biomas (cacing tanah itu sendiri) dan kascing (bekas cacing). Panen cacing dapat dilakukan dengan aneka macam cara salah satunya yaitu dengan mengunakan alat penerangan ibarat lampu petromaks, lampu neon atau bohlam. 

Cacing tanah sangat sensitif terhadap cahaya sehingga mereka akan berkumpul di adegan atas media. Kemudian kita tinggal memisahkan cacing tanah itu dengan medianya.

Ada cara panen yang lebih ekonomis dengan membalikkan sarang. Dibalik sarang yang gelap ini cacing biasanya berkumpul dan cacing mudah terkumpul, kemudian sarang dibalik kembali dan pisahkan cacing yang tertinggal. 

Jika pada dikala panen sudah terlihat adanya kokon (kumpulan telur), maka sarang dikembalikan pada wadah semula dan diberi pakan hingga sekitar 30 hari. Dalam jangka waktu itu, telur akan menetas. dan cacing tanah dapat diambil untuk dipindahkan ke wadah pemeliharaan yang gres dan cacingnya siap di panen. 

Itulah pembahasan lengkap mengenai cara budidaya cacing tanah yang mampu kita pelajari. Mudah-mudahan kita menerima gambaran lebih terang mengenai ternak yang satu ini. Salam sukses!